Kamis, 28 Mei 2009

W I N D

1. Prox

Senin, 7 April 2033. Hari telah menjelang sore, tak terasa bel tanda pulang sekolah telah berbunyi. Murid-murid SMA Techwill di kota Sytlus berhamburan keluar dari kelasnya masing-masing. Ada seorang anak laki-laki yang berlari keluar kelasnya dengan sangat terburu-buru. Tak sengaja dia menabrak seorang murid laki-laki lain dan sampai membuatnya terjatuh.
“hey...kalo jalan lihat-lihat donk”, kata siswa yang ditabrak tadi kepada anak yang sedang lari di koridor sekolah. Sambil memalingkan muka anak yang lari tadi tersenyum.
“maaf...aku ga’ sengaja, aku harus buru-buru”
“huh...ternyata dia yang nabrak aku, aku kira tadi siapa, huh...” eluh siswa tadi dengan nada sedikit heran kepada teman yang ada disampingnya.
“hem...??? kenapa ya dia lari ?? emang ada kebakaran ya disekolah kita ???”, temannya bertanya. “.
“Mana ada, ngaco aja kamu ini”
“habis..ga’ biasanya dia lari-lari begitu. Ada apa ya ??”
“mana aku tahu” sahut siswa tadi.
Siswa yang lari tadi dengan cepatnya pergi meninggalkan semua murid yang ada di sekolah itu. Seperti perlombaan lari dia lari tanpa toleh kanan toleh kiri. Dia tidak peduli sama sekali dengan keadaan sekitarnya. Sampai di perempatan di berbelok kearah kanan dan singgah disebuah toko roti. Dilihatnya toko itu sedang sepi pengunjung. Tanpa ragu lagi dia membuka pintu toko yang transparan karena terbuat dari kaca dan langsung menuju penjaga toko yang sedang berdiri didepan meja kasir.
“pak...aku sudah sampai. Mana yang harus aku kerjakan ?” dia bertanya dengan semangatnya.
“oh..kau Yuya ! iya itu tolong diantarkan semuanya kerumah pelanggan ya ! alamat rumah para pelanggan beserta pesanannya sudah tercatat di kertas itu”, sambil menunjuk selembar kertas yang terletak diatas kotak berisi roti.
“tapi ada imbalannya donk ?”
“hehe, urusan itu gampang. Kau sudah sering membantuku disini. Sebagai imbalannya kau boleh ambil apa saja yang kau mau di toko ini. Gimana ?”
“sip...dah ! aku berangkat”, sambil membawa kotak berisi roti keluar toko.
“hati-hati nak !”
Keluar dari toko dia menuju garasi yang terletak disamping toko itu. Diambilnya sepeda dan meletakkan kotak tadi di belakang. Dalam sekejap saja dia sudah mengayuh sepedanya menuju tempat yang tertulis di selembar kertas tadi.

***
Petang menjelang, anak tadi mengayuh sepeda dengan riang menuju toko roti. Sesampainya disana, dimasukkannya sepeda ketempat semula dan berlari masuk ke toko roti.
“semua rotinya sudah aku antarkan ketempatnya masing-masing. Tak ada complain satupun”
“kau memang bisa diandalkan. Sebagai hadiahnya ambillah apa saja yang kau suka”
“berapa banyak ?”
“sebanyak yang kau mau”, sambil tersenyum.
“hehe....thank u pak”
Dengan senangnya dia mengambil roti-roti sebanyak yang dia mau dan memasukkan kesebuah kantong yang memang sudah tersedia di toko itu. Setelah merasa cukup dia menghampiri bapak tadi.
“terima kasih ya pak ! dengan roti sebanyak ini aku ga’ perlu cari makan malam lagi”
“iya sama-sama”
“aku pulang dulu ya pak ?”
“hati-hati ya”
Sambil membawa bungkusan roti tadi dia berjalan menuju rumahnya. Baru beberapa puluh langkah perutnya sudah mulai berbunyi. Dibukanya bungkusan roti tadi dan memakannya. Sambil memakan roti dia menoleh kearah langit dan bergumam,
“sudah terlalu malam nih. Harus segera pulang”
Dilihatnya ada sebuah gang kecil yang merupakan jalan pintas menuju rumahnya. Gang itu kecil dan gelap. Terlihat angker tapi dia sudah terbiasa berjalan melewati gang itu. Tanpa ada rasa takut dia berjalan memasuki gang itu. Didalam gelapnya gang itu, matanya melihat sesosok bayangan buram. Tak jelas bayangan apa itu namun berbentuk seperti manusia. Namun saat itu dia juga mendengar suara rintihan seseorang. Setelah beberapa saat barulah matanya terbiasa dengan gelap. Sambil berjalan perlahan menuju sosok tadi akhirnya dia menemukan seorang pria dalam keadaan luka parah. Dia langsung berlari menuju pria itu.
“tuan kenapa ? anda tidak apa-apa?”
Sambil terbatuk-batuk dan menahan sakit lukanya, pria tadi menjawab
“tidak apa-apa, tak usah pedulikan aku”
“tidak apa-apa apanya ? anda terluka parah begini. Biar aku bantu berdiri”
Dia membantu pria tadi berdiri dan menyandarkannya di tepi gang. Melihat pria ini terluka parah dan sepertinya sudah mulai sekarat, hatinya terketuk untuk memberikan roti yang ada di kantong di genggaman tangannya.
“tuan, makanlah roti ini, setidaknya cuma ini yang bisa aku berikan kepada tuan”, sambil mengeluarkan roti dari bungkusnya dan memberikannya kepada pria tadi.
“terima kasih banyak”
Pria tadi mengambil roti itu dan memakannya. Bapak tadipun bertanya
“anak muda, siapa namamu ?
“oh...namaku Yuya, Yuya Griffin, aku siswa SMA Techwill kelas 2-1”
“kau tinggal dimana ? dengan siapa kau tinggal ?”
“aku tinggal di sebuah apartemen kecil dekat sini. Aku tinggal sendiri saja disana”
“memang orang tuamu dimana ?”
“orang tuaku meninggal karena kecelakaan lalu lintas ketika aku masih kecil. Dulu aku tinggal dengan kakakku tapi setelah dia menikah aku merasa menjadi beban bagi dia makanya aku pergi dan hidup disini”
“oh...maafkan aku ?”
“tak jadi soal. Jangan bicara terus tuan, luka tuan sangat parah. Ayo kita ke rumah sakit, biar aku antarkan”
“terima kasih Yuya. Aku tidak bermaksud menolak kebaikanmu tapi aku sudah tak bisa ditolong lagi”
“sudahlah jangan bicara seperti itu. Ayo kita segera kerumah sakit”
“anak muda ! aku tak sanggup berjalan lagi”
“biar aku yang menggopohmu sampai rumah sakit”
“terima kasih tapi tak perlu kau repot-repot demi aku. Aku adalah orang asing bagimu”
“ga’ peduli dia orang asing atau orang yang kita kenal yang penting kita harus saling tolong menolong satu sama lain”
“baru pertama kali aku menemukan orang sepertimu, Yuya ! kelihatannya kau pantas mengantikan tugasku”
“tugas ? apa maksud tuan ?”
“aku punya sebuah permintaan kepadamu”, pria tadi berbicara dengan nada menahan rasa sakit sambil memasukkan tangannya kedalam saku jasnya yang compang-camping dan penuh dengan darah.
“tolong temukan orang yang dapat membuka Prox ini !” sambil menunjukkan 2 buah benda berbentuk seperti telur yang sama namun berbeda warna dan motifnya. Satu berwarna Perak berlambang seperti huruf S berwarna putih berbentuk bulan sabit dan ada dua lingkaran di antara ruas huruf S itu dan yang satunya lagi berwarna putih dengan lambang seperti matahari berwarna hitam. Kedua benda itu diserahkannya kepada Yuya. Yuya mengambilnya.
“Prox ? apa itu Prox ?” tanya Yuya dengan heran.
“kau akan tahu bila saatnya tiba. Ingat jagalah benda ini sampai kau menemukan orang yang bisa membuka benda ini. Benda ini bukan dibuka tapi akan terbuka dengan sendirinya jika bertemu dengan orang yang dicari Prox ini. Cuma tersisa 2 prox ini yang masih bisa aku selamatkan. 2 prox ini istimewa jadi jagalah jangan sampai ada yang tahu tentang prox ini”
Pria tadi terdiam sejenak, lalu melanjutkan lagi pesannya.
“inilah takdirmu Yuya. Kau harus menemukan orangnya. Terlebih lagi prox yang berwarna putih itu. Itu adalah kunci dari semuanya”
“baik ! walaupun sebenarnya aku ga’ mengerti dengan apa yang tuan bicarakan tapi aku akan menjaga prox ini sekuat tenaga seperti yang tuan wasiatkan padaku”
“terima kasih banyak, aku senang disaat terakhir seperti ini aku bertemu dengan orang sepertimu, sayang aku tidak bisa bersamamu lebih lama. Selamat tinggal”
Tepat ketika pria itu menghembuskan nafasnya yang terakhir, jasadnya mulai menghilang sedikit demi sedikit. Spontan saja Yuya langsung ambil langkah seribu lari keluar dari gang itu.
Sekejap saja dia telah tiba di depan apartemen mungil miliknya. Sambil berlari dinaikinya tangga sampai hampir terpeleset. Sampai di depan pintu, diambilnya kunci dan masuk kedalam rumah. Spontan dikuncinya pintu seperti orang yang diburu penjahat.
Rumah Yuya kecil. Hanya terdiri dari 4 ruangan yang kecil terdiri dari kamar mandi, dapur, dan 2 ruangan yang sama besar. Satu ruangan dijadikannya sebagi kamar tidur dan yang satunya lagi dijadikannya ruang bersantai.
“tadi apa ya ? hantu ? jasadnya bisa menghilang seperti itu ! Cuma hantu yang bisa seperti itu ! tapi...”
Dilihatnya kearah 2 buah benda berbentuk seperti telur tadi
“ini asli kan ? bendanya saja bisa aku rasakan dengan baik di tanganku”
Perlahan-lahan rasa takutnya mulai hilang. Sekarang dia berpikir apa sebenarnya benda itu. Dikeluarkannya kedua prox dari sakunya dan diletakkannya dilantai. Yuya duduk didepan kedua prox itu.
“masa sih benda ini akan terbuka sendiri ketika bertemu dengan orang yang dicarinya ? emang benda ini hidup ? hem...???”
Ditatapnya kedua prox itu dengan cermat. Mendadak Yuya melihat cahaya muncul dari prox berwarna perak. Cahaya ini mengundang rasa keingintahuannya kenapa benda ini menyala sedangkan yang satunya tidak. Dengan hati-hati diambilnya prox yang berwarna perak dan melihatnya dengan seksama. Mendadak prox perak terbuka dan seberkas cahaya mengelilingi tubuh Yuya dan memasuki tubuhnya. Yuya merasa kesakitan karena cahaya ini sampai dia berteriak. Yuya mengerang kesakitan sampai akhirnya dia pingsan dan tak sadarkan diri.

2. Gadis Centil

Bunyi alarm terdengar dari kamar tidur. Yuya terbangun dari tidurnya
“aku tidur disini ya ? perasaan malam tadi aku memegang prox perak dan keluar cahaya dan mengelilingiku truz....aku ga’ ingat lagi apa yang terjadi selanjutnya”
“ngomong-ngomong dimana prox perak itu ?” pikir Yuya sambil mencari prox perak di sekeliling ruangan. Dicarinya ke setiap sudut, bawah lemari, bawah meja tapi tetap tak ditemukannya prox perak. Dia Cuma melihat prox warna putih yang tetap berada dilantai.
“aneh...! seingatku malam tadi prox perak ada di tanganku tapi sekarang kok ga’ ada ya ?”
Dilihatnya jam dinding sudah menunjukkan hampir pukul 7 pagi. Dengan tergesa-gesa Yuya masuk kekamar mandi. Beberapa saat kemudian dia keluar dan langsung mengambil baju seragamnya. Diambilnya 2 potong roti dari dapur dan sebotol susu dari kulkas dan langsung dilahapnya kilat. Selesai makan Yuya langsung tancap gas menuju sekolah tanpa pikir panjang lagi.
10 menit kemudian dia sudah sampai di gerbang sekolah. Hari agak berbeda dari sebelumnya. Selama Yuya berjalan menuju ruang kelasnya di lantai 2, banyak yang memperhatikannya. Biasanya tak ada yang memperhatikannya sampai sebegitunya karena Yuya dikenal sebagai anak biasa yang agak culun dan lumayan aneh walaupu badannya lumayan tinggi tapi hari ini banyak yang menatapnya dengan heran.
“ada apa sih ? koq banyak yang menatapku ? emang ada yang aneh ya ?” gumam Yuya dalam hati.
Tiga orang siswa datang menghampiri Yuya. Pimpinannya bernama Hanz, lumayan kekar badannya menghalangi jalan Yuya
“hey culun...sudah ganti popok malam tadi ? hehehe...”
Ketiga siswa itu tertawa dengan terpingkal-pingkal, namun Yuya diam saja. Dia emang sudah biasa diejek oleh Hanz. Hanz yang emang terkenal sebagai anak bandel di sekolah yang sering mengolok-olok dan mengerjai Yuya, karena itulah Yuya sudah terbiasa karena memang setiap hari dia diejek.
“minggir ! aku mau lewat !”, Yuya berkata dengan beraninya. Yuya bingung sendiri kenapa dia berani mengucapkan kata-kata berbau menantang seperti itu kepada Hanz ?
“huh ? kau berani bilang begitu padaku sekarang ? hem...kayaknya ada yang berbeda darimu hey culun ! lupakan tentang itu ! kau sudah berani ya ngomong begitu kepadaku ?”
“heh...emang kenapa bila aku ngomong begitu ?” tanya Yuya sambil mendorong tubuh Hanz. Hanz terlempar sekitar 5 meter dan jatuh terjerembab di lantai koridor. Teman-teman Hanz bingung melihat kejadian ini. Yuya sendiri pun bingung melihat apa yang terjadi. Dia bisa mendorong Hanz sampai terjatuh seperti itu. Sontak banyak siswa dan siswi melihat kejadian ini.
Hanz bangun dan berbicara pada Yuya
“kau sudah melakukan hal yang salah hey culun ! aku tunggu kau saat pulang sekolah di taman belakang. Aku hajar kau disana> jang coba-coba kabur atau kau akan tahu sendiri akibatnya”
Dengan nada yang kesal Hanz pergi dari tempat itu dan kedua temannya mengikutinya dari belakang.
“apa yang telah terjadi padaku ? kayaknya ada yang aneh”
Yuya melirik pada 3 orang siswi yang tadi melihat kejadian tadi. Ketiga siswi tadi wajahnya merah dan langsung lari.
“huh ? kok lari ? emang ada apa sih ? tampangku lucu ya ? emang sih tampangku emang lucu coz aku kan terkenal sebagai anak culun! Hehehe...!” gumam Yuya dalam hati sambil berjalan menuju kelasnya.
Ketika Yuya masuk ke dalam kelasnya, semua teman-temannya heran melihat Yuya.
Seorang siswi berbisik kepada temannya
“itu Yuya kan ?”
“kelihatanya emang dia tapi koq beda ya hari ini ?”
“iya ya, jauh berbeda dengan Yuya yang kemarin”
“he-eh”
Yuya heran dengan semua orang yang ada di sekolahnya. Kenapa semua orang memerhatikannya. Ralf, teman akrab Yuya mendekati Yuya
“Yuya ? lo habis kesalon ya ? gila ! beda banget lo hari ini. Ga’ kaya kemaren. Jadi ini alasan lo kemarin lari2 kaya kuda gila kena tusuk pantatnya ?”
“ngaco aja lo ! mana pernah aku kesalon ! emang ada apa sih dengan tampangku ?”
Tanpa berbicara, Ralf menyerahkan cermin yang diambilnya dari laci meja salah satu siswi. Yuya mengambilnya dan melongok ke cermin
“hah..? kenapa wajahku ?”
“tampang culun lo udah ga’ ada lagi bro ! lo guanteng sekarang, hehehe...salut...”
Yuya masih ga percaya dengan apa yang dilihatnya. Tampangnya yang seperti orang bodoh sudah berubah. Matanya yang sayu berubah menjadi mata yang memiliki tatapan tajam dan terlihat tegas. Wajahnya tidak berubah bentuk, namun raut wajahnya berubah dari tampang culun menjadi tampang coverboy yang cool. Melihat hal ini Yuya sontak kaget
“apa yang terjadi padaku ya ?”
“mana aku tahu”
Ralf melihat ke tubuh Yuya
“badan lo koq jadi bagus gini ? lo fitnes dimana ? sehari bisa jadi begini badan lo ? gila...keren !”
Yuya mengangkat kedua tangannya dan melihat lengannya terlihat lebih berisi dari kemarin. Badannyapun terlihat proposional. Yuya heran melihat apa yang terjadi pada dirinya sendiri. Apakah ini karena Prox itu ? pikirnya.
“ini pasti karena prox kemarin !”
“ha ? prox ? apa itu ?” tanya Ralf dengan nada heran
“bukan apa-apa, ga’ usah dipikirkan”
Dari pintu muncul sesosok laki-laki berbadan tinggi dan tegap, lebih tinggi sedikit daripada Yuya, berkacamata dan ekspresi dingin dari matanya.
“akhirnya Nick muncul juga ! Yuya, aku pengen deh punya otak kayak dia, cerdasnya minta ampun”
“sayangnya otakmu ga’ bisa ditukar dengan otaknya, sekalipun bisa ditukar dia juga ga’ bakalan mau menukarnya dengan otakmu yang jarang dipake itu”
“hehe...benar juga”
Mereka berdua tertawa. Nick melihatnya dan menghampiri mereka
“pagi”
“pagi...” balas Yuya dan Ralf berbarengan
Nick menatap Yuya dengan pandangan sedikit tajam. Melihat ini Yuya juga melakukan hal yang sama kepada Nick lantas bertanya
“ada apa ?”
“tidak ada apa-apa”
Nick meletakkan tasnya diatas mejanya. Nick duduk dibarisan no 2 dari paling kiri dan no 2 dari belakang. Dibelakangnya duduk Ralf dan dikiri Ralf adalah tempat duduk Yuya. Yuya duduk di barisan paling kiri dan paling belakang.
Bel tanda masuk berbunyi. Semua murid menempati tempat duduknya masing-masing. Tak beberapa lama seorang wanita muda masuk. Namanya adalah Moi Hanagi. Biasa dipanggil bu guru Moi. Dia mengajar Geografi di kelas Yuya.
“baiklah kita absen dulu. Andy...”
Bu guru Moi mengabsen murid-muridnya di kelas 2-1. Yuya masih memikirkan apa yang terjadi pada dirinya.
“Yuya Griffin...”, bu guru Moi mengabsen. Yuya yang dari tadi melamun tak menyadarinya sama sekali.
“Yuya Griffin”, suara ibu guru sedikit lebih keras dari sebelumnya.
“eh...Ha..hadir bu”, jawab Yuya dengan tergagap gagap.
“dari tadi kau melamun ya Yuya ?”
“ma...maaf bu..., ga’ sengaja”
Bu guru menanatap Yuya dengan agak heran
“hem...kau tampak beda hari ini ! kelihatannya...hem....”
“apanya yang berbeda bu ?”
“kau terlihat manis juga, hehe...”, kata bu guru Moi agak centil
Wajah Yuya langsung merah karena bu guru Moi selain masih muda tapi juga berparas cantik dan punya bentuk tubuh yang bagus. Banyak yang mengatakan bu guru Moi adalah guru yang paling seksi dan cantik di sekolah jadi wajar kalau wajah Yuya langsung merah bila dibilang begitu oleh bu guru Moi. Semua siswa melirik kepada Yuya. Ralf tertawa sedangkan Nick menatap Yuya dengan tajam. Bu guru Moi melanjutkan mengabsen siswa hingga selesai dan memulai pelajaran.

***
Bel tanda istirahat berbunyi. Semua murid merapikan buku mereka masing-masing. Ada sebagian yang keluar kelas untuk pergi ke kantin dan ada juga yang tetap di dalam kelas sambil membuka bekal mereka. Ralf yang dari tadi mengeluh pengen makan akhirnya tidak tahan lagi.
“Yuya, ke kantin yuk ?”
“ok deh, yuk”
Mereka berdua berjalan menuju kantin dengan agak uring-uringan soalnya dari tadi perut mereka sudah keroncongan. Begitu sampai di kantin, Ralf terhenyak melihat kantin sudah ramai. Hampir semua tempat duduk telah terisi. Dia menoleh kekanan dan kekiri untuk mencari tempat duduk yang kosong dan berhasil.
“nah...disitu ada meja kosong satu, cepetan, entar ada yang ngisi lagi”
Sambil setengah berlari Ralf mendekati tempat kosong itu akhirnya berhasil meraihnya. Yuya yang melihat polah temannya hanya tersenyum.
“bu kantin, pesen spagetty ya ama lemon juice ya ?”, Ralf menyeru kepada ibu kantin yang berdiri kira-kira 3 meter dari mereka.
“Yuya, kamu pesan apa ?”, Ralf nanya
“aku ga’ mesan ! jus kaleng aja deh...lagi boke nih. Aku ke mesin minuman dulu ya sebentar”, sahut Yuya sambil beranjak dari tempat duduknya.
“yah...kenapa sih Yuya boke tepat disaat aku juga lagi tongpes (kantong kempes)”, Ralf menyela napasnya.
Ibu kantin kembali menuju meja Ralf dan Yuya sambil membawa pesanan Ralf. Ralf sudah meler melihat spagettynya. Beberapa saat kemudian Yuya kembali dan duduk di kursinya kembali.
“Pop juice, lumayan buat diminum dan ga’ mahal”
“aku jadi ga’ enak nih makan sendiri”
“sudah makan aja. Aku udah biasa ga’ makan siang”
“ya udah”
Tanpa komentar lagi, Ralf langsung melahap makanannya seperti orang ga’ makan 10 tahun. Saking rakusnya Ralf makan sampai-sampai mulutnya blepotan dengan spagetty. Yuya yang dari tadi melihat cuma cengengesan. Selagi meminum pop juicenya, Yuya melihat cewek cantik berambut coklat dengan poni menyamping kekiri dengan juntaian sedikit berpilin di kedua telinganya celingak-celinguk kebingungan. Kelihatannya dia mencari sesuatu pikir Yuya. Cewek tadi melongok kearah Yuya, dan berjalan mendekat. Yuya acuh tak acuh saja.
“permisi kakak...boleh saya duduk disini ??” tanya gadis tadi dengan ramah dan penuh senyuman.
Mendengar suara cewek, Ralf langsung melongok dan terkejut melihat cewek cantik berdiri dihadapannya. Saking terkejutnya sampai-sampai dia tersedak. Yuya mengambilkan lemon juice Ralf untuk menolong temanya yang tersedak.
“aje gile...bidadari dari mana nih ?” tanya Ralf pada Yuya
“bersikan dulu wajahmu yang belepotan pake tisu baru ngomong. Malu-maluin aja”,balas Yuya dengan nada agak sedikit menegur. Ralf mengambil tisu yang ada di sampingnya dan membersihkan mulutnya dengan tisu itu.
“boleh...?”,tanya gadis itu sambil menunjuk ke satu kursi kosong yang ada di meja mereka.
“ah...iya...silahkan”,balas Yuya sambil tersenyum sopan. Yuya bertanya
“anak kelas 1 ya ?”
“iya kak, namaku Aya Coyle biasa dipanggil Aya. Saya murid baru disini. Saya anak kelas 1-3. Saya ke tempat kakak soalnya cuma disini yang saya lihat ada kursi kosongnya”
Kali ini Ralf kembali tersedak. Yuya yang melihat tingkah temannya ini mengerutkan dahinya.
“Aya ? Aya Coyle ? artis pendatang baru yang sedang naik daun itu kan ?”,sahut Ralf dengan nada terhenyak. Yuya cuma melongo.
“iya kak”
“oh...benarkah itu kau ?, pantesan aja wajahmu familiar. Oh iya...kenalkan namaku Ralf, Ralf Torsley. Senang berjumpa denganmu. Aku fansmu lho...”, kata Ralf dengan gaya sok kenal sambil menjulurkan tangannya. Aya cuma diam saja. Hati Ralf retak melihat sikap dingin Aya. Aya melirik kepada Yuya.
“nama kakak siapa ?”
“oh..namaku Yuya, Yuya Griffin. Salam kenal”
“kak Yuya...nama yang bagus..hehe...”, Aya tertawa centil
“hehe...”,balas Yuya dengan senyum.
“oh iya maaf ya kak udah mengganggu”
“ah...ga’ apa-apa koq. Kami ga’ merasa terganggu tuh”, sahut Ralf memotong, tapi lagi-lagi Aya tak menggubrisnya. Hati Ralf terbelah dua. Aya melihat kearah Ralf, lalu kearah Yuya lagi
“kak Yuya ga’ makan ?”
“hehe...ga’...”
“lagi diet ya ?”
“ga tuh...”
“truz knp ga’ makan ?”
“lagi malas aja”,sahut Yuya dengan nada yang kurang meyakinkan. Ralf yang mendengar percakapan mereka cuma diam meratapi nasibnya yang tak digubris Aya.
“oh...! kalo gitu kak Yuya mo makan apa ? biar Aya yang bayar”
Mendengar ini Ralf kembali tersedak untuk yang ketiga kalinya. Untuk yang kali ini rasanya Ralf kayak orang lagi sekarat. Dengan tergopoh-gopoh diraihnya lemon juice miliknya dan menegaknya sampai habis. Akhirnya Ralf tenang juga. Yuya memandang sinis temannya itu.
“ah...ga’ usah repot-repot. Aku minum pop juice ini aja udah cukup kok”
“kak Yuya ga’ merepotkan koq. Hitung-hitung sebagai ungkapan rasa terimakasih Aya karena sudah mengijinkan Aya duduk disini”
“ah...ga’ usah berterima kasih. Ga’ apa-apa koq”
Perut Yuya ternyata tak bisa berbohong. Perut Yuya berbunyi tanda dia memang lapar.
“tuh kan...apanya yang ga’ apa-apa. Ya udah kalo gitu biar Aya yang pesankan deh”, sambil melihat daftar menu.
“yap ! yang ini aja deh. Bu...saya pesan ini ya dua sama minumnya yang ini dua”, sambil menunjuk ke menunya.
“tunggu sebentar ya”,sahut ibu kantin.
Yuya hanya tersipu malu. Perutnya sekarang emang tidak bisa menyembunyikan fakta bahwa dia memang lapar.
“oh iya, kak Yuya kelas berapa ?, boleh tahu ga’ ?”, tanya Aya dengan sedikit centil.
“aku anak kelas 2-1, sama dengan Ralf”
“oh...entar misalnya Aya perlu bantuan, Aya minta bantuan kak Yuya ya ? soalnya Aya belum punya banyak teman disini”
“eh..iya ! boleh aja koq. Cari aja aku dikelasku bila Aya perlu bantuan”
“benarkah ? aduh...senangnya kak Yuya mau bantu Aya”
Selagi mereka masih berbincang-bincang, Hanz datang menghampiri mereka.
“oh...si culun rupanya disini ya ?”,ejek Hanz.
Hanz melirik kepada Aya yang duduk di hadapan Yuya.
“hem...hebat juga kau culun, bisa dapat cewek cantik kaya gini, tapi kau ga’ pantas dapat cewek cantik seperti ini. Biar aku saja yang menggantikanmu”, kata Hanz sambil menggoda Aya. Hanz ingin menyentuh dagu Aya tapi Yuya menangkap tangannya.
“jangan membuat keributan disini. kau kan bilang sepulang sekolah kita selesaikan diluar. Jangan disini”, sahut Yuya sambil melempar tangan Hanz menjauh dari Aya. Ralf yang melihat ikut melerai.
“hey..Hanz..disini kantin sekolah, bila ribut disini bakalan banyak masalah jadi sebaiknya kau pergi”, Ralf menjelaskan dengan memasang tampang marah.
“okay...aku tunggu sepulang sekolah di halaman belakang. Tapi awas jangan coba-coba kabur”,hanz menggeretak.
“aku tak kan lari”,sahut Yuya dengan yakin.
“okay...Fred, Tom, ayo kita pergi”,Hanz mengajak 2 temannya pergi. Akhirnya situasi tenang. Aya yang dari tadi cuma melongo karena melihat situasi tadi akhirnya berani berbicara.
“kak Yuya kenapa melakukan hal itu ? jadinya kak Yuya dapat masalah deh”
“sudah ga’ apa-apa, lagipula masalahnya juga dari tadi pagi koq, jadi kamu ga’ usah takut”,jelas Yuya sambil tersenyum.
Tak beberapa lama ibu kantin datang membawakan pesanan. Yuya melihat apa yang dipesan Aya. Makanan yang paling mahal di kantin.
“ga’ salah nih ?”,tanya Yuya dengan nada terkesima.
“ga’ ! ga’ ada yang salah koq. Makan aja. Biar Aya yang traktir. Yuk makan sama-sama”,balas Aya sambil mengambil sendok dan garpu.
Berhubung sudah ditraktir dan makannya sudah ada, akhirnya Yuya tidak bisa menolak lagi. Menu ‘beef stick’ memang yang paling mahal dan Yuya belum pernah memakannya. Memang nasibnya bagus hari ini pikirnya. Ralf yang cuma bisa melihat ngiler aja soalnya dia sudah makan duluan dan tidak mungkin ditraktir Aya juga. Memang hari ini adalah hari yang sial bagi Ralf. Sudah beberapa kali tidak digubris oleh Aya, sekarang dia cuma bisa melototin Yuya makan beef stick yang mahal. Hati Ralf remuk.
Saat makan, Aya mencoba bertanya kepada Yuya
“kak Yuya...nomor Hpnya berapa ? biar Aya bisa calling-calling gitu kali aja bisa nanya-nanya”
“mmm...kalo itu...”
“Yuya ga’ punya handphone”,Ralf memotong dengan mantap. “kali ini pasti berhasil mendapatkan perhatian Aya”,pikir Ralf.
“gimana kalo nomerku aja ? aku kan juga satu kelas dengan Yuya dan aku juga bisa bantu kamu dengan baik koq...”,sambung Ralf dengan nada yakin.
“kak Yuya ga’ punya handphone ya ? yah...”,kata Aya tanpa memperdulikan sedikitpun perkataan Ralf. Kali ini hati Ralf benar-benar menjadi abu gosok.
Tak terasa bel tanda masuk berbunyi sesaat setelah Yuya menghabiskan makanannya. Yuya dan Ralf bangkit dari kursinya masing-masing sedangkan Aya pergi ke meja kasir untuk membayar harga makanan. Saat itu Ralf berbisik pada Yuya.
“duitnya banyak tuh ! artis...”
“mikir apa sih kamu itu ?”,sahut Yuya dengan pandangan sinis.
Setelah membayar, Aya mendekati mereka lagi.
“kak...terima kasih udah menemani Aya makan siang. Entar kapan-kapan kita makan bareng lagi ya ?,tenang...Aya yang bayar...hehehe..., dah kakak...”,sambil berlari meninggalkan Yuya dan Ralf menuju kelasnya. Yuya dan Ralf pun juga berjalan menuju kelas mereka beriringan dengan murid-murid kelas 2 yang lain yang sama-sama makan di kantin.

***
Bel tanda pulang sekolah berbunyi. Semua murid bergegas pulang. Ralf yang dari tadi gelisah memikirkan nasib temannya sepulang sekolah ini mendekati Yuya.
“Yuya...kau yakin mau menghadapi tuh si jagal dari tong sampah ?”, tanya Ralf sambil nyengir. ‘kelihatannya dia marah banget tuh sama lo...bisa dibunuhnya lo”, lanjut Ralf dengan nada agak menakuti.
“kalau aku mati kan lumayan kelas ini agak longgar sedikit”, jawab Yuya bercanda.
“ah...lo jangan bercanda donk...serius nih...”, balas Ralf dengan ekspresi agak takut. “kau akan menemuinya sekarang ?”
“yap...lagipula bila aku lari hari ini, besok dia juga bakalan mencari aku”, sahut Yuya dengan tenang. “aku kan tidak mungkin terus menghindar, hari ini atau nanti kan sama saja, cuma masalah waktu”.
“iya sih...tapi kan....”
“sudahlah...”, kata Yuya sambil beranjak dari kursinya, mengambil tasnya dan berjalan menuju pintu keluar. Belum sampai didepan pintu, Yuya memalingkan wajahnya kearah Ralf.
“kau pulang saja, aku akan baik-baik saja”, ucap Yuya sambil berjalan meninggalkan kelas. Ralf hanya termangu berdiri menatap pintu memikirkan apa yang bakalan terjadi pada sahabatnya itu.
Yuya berjalan menuruni tangga dan menelusuri koridor menuju halaman belakang sekolah yang sudah mulai sepi karena semua siswa sudah pulang, hanya beberapa siswa saja yang masih terlihat berjalan di koridor sambil membawa buku dari perpustakaan. Ada sedikit perasaan takut dalam benak Yuya namun dia beusaha untuk melawannya.
“aku bukan seorang pengecut”, pikirnya meyakinkan keteguhan hatinya. Tak terasa dia sudah berada diujung koridor dan satu langkah kakinya membuat dia keluar dari gedung sekolah. Dia terus berjalan menyisir gedung sekolah samapi keujung. Dilihatnya ada 3 orang yang sudah tidak asing lagi baginya. Hanz, Fred, dan Tom sudah berdiri dibawah pohon menanti kedatangan Yuya. Fred melihat Yuya dan berbicara kepada Hanz.
“bos...lihat tuh, sia anak culun belagu sudah datang buat dihajar”, katanya sambil cekikikan. Tom tertawa melihat Yuya berjalan agak lamban mendekati mereka bertiga. Yuya terus berjalan sampai hanya kira-kira 6 langkah dari Hanz dan kawan-kawan. Melihat Yuya berdiri dihadapannya, Hanz tersenyum puas.
“ternyata kau berani juga datang sendirian menghadapiku !”, kata Hanz dengan kemenangan. Dia memukulkan tangan kanannya ketelapak tangan kirinya, bersiap-siap untuk menghajar Yuya. Melihat hal ini, Yuya hanya diam dan tak bergeming sedikitpun dari tempat berdirinya. Ekspresinya tak berubah sedikitpun. Tak ada ekspresi rasa takut yang tergambar dari wajahnya. Melihat hal ini, Hanz naik pitam. Hanz berlari mendekati Yuya. Dia melayangkan tangan kanannya kearah wajah Yuya. Pukulan Hanz tepat mendarat di wajah Yuya. Yuya jatuh tersungkur. Dari mulutnya keluar darah. Yuya bangkit untuk berdiri dan menatap Hanz dengan tatapan tajam. Hanz dongkol melihat sikap Yuya.
“beraninya kau menatapku seperti itu ?’, teriak Hanz. Hanz mendekati Yuya, menarik kerah baju Yuya dengan tangan kiri dan mengangkatnya. “kau sudah bosan hidup ya ?”.
“hajar bos”, sahut Fred mendukung Hanz. “jangan beri ampun”, sahut Tom menambahkan.
“tak ada gunanya juga aku melawanmu”, sahut Yuya tenang.
“heh...bagus...kau akhirnya menyadarinya bahwa kau memang tidak berdaya, kau lemah, berani-beraninya kau menantangku”, kata Hanz dengan congkaknya, merasa dirinya telah menang.
“heh...kau salah paham”, sahut Yuya. “aku tak merasa tak berdaya dihadapanmu”, lanjut Yuya. “aku cuma tidak mau memperpanjang dan memperbanyak masalah denganmu”, sambung Yuya sambil menatap tajam mata Hanz.
“apa kau bilang...”, teriak Hanz dengan marah. Hanz mengepalkan tangan kanannya, bersiap untuk memukul wajah Yuya lagi. Namun, sikap Yuya tetap tak berubah sama sekali. Saat Hanz melayangkan pukulannya kearah wajah Yuya, terdengar suara teriakan seorang laki-laki.
“Hentikan...”, teriak Ralf dari kejauhan. Ralf berlari mendekati mereka sambil memegangi sebilah tongkat kayu yang lumayan panjang. “lepaskan temanku...”.
“apa yang kau lakukan disini, Ralf ?”, teriak Yuya. “cepat pergi...”.
“rupanya ada cecurut yang pengen merusak pesta ya ?”, kata Hanz tersenyum. “Fred, Tom, bereskan pengganggu ini”, perintahnya kepada kedua temannya.
“akhirnya ada juga yang bisa dihajar”, kata Tom senang. Meraka berdua menghadang Ralf yang sedang berlari mendekat. Mereka berdua memegang tongkat baseball ditangan mereka masing-masing. Melihat ada yang menghalangi jalannya, Ralf berhenti mendekat. Merasa dia tak memiliki kesempatan untuk menang, Ralf berkata.
“kalau berani ayo satu lawan satu, dengan tangan kosong”, kata Ralf sambil menjatuhkan tongkat yang ada ditangannya. Fred melempar tongkat baseballnya ke samping.
“baiklah...aku hadapi kau, hehe...”, Fred tertawa. Tom memperhatikan mereka.
Ralf berlari kearah Fred sambil mengarahkan kepalan tangannya kearah wajah Fred. Fred berhasil menangkisnya dengan tangan kanannya, dan melayangkan pukulan kearah wajah Ralf dengan tangan kiri. Ralf jatuh tersungkur. Fred mendekatinya, mengangkat kakinya dan menginjak tubuh Ralf yang sudah jatuh tersungkur di tanah. Fred melakukan ini berulang-ulang. Ralf mengerang kesakitan.
“coba kau lihat temanmu itu, tak berdaya seperti dirimu, mau jadi pahlawan kesiangan ?”, kata Hanz kepada Yuya sambil tertawa puas. Tom ikut-ikutan tertawa. “sekarang giliranmu culun”.
Hanz melayangkan pukulannya sekali lagi kearah wajah Yuya. Yuya jatuh untuk kedua kalinya. Dia mengerang kesakitan. Hanz mendekati Yuya yang terjatuh dan menarik kerah baju Yuya.
“inilah akibatnya bagi orang sepertimu”, bisik Hanz ketelinga Yuya.
Yuya hanya menatap Hanz dengan pandangan yang sama dengan sebelumnya. Hanz benar-benar marah kali ini. Dia akan memukul Yuya tanpa ampun kali ini. Namun, tepat saat itu, Aya datang sambil berlari mendekati mereka.
“jangan sakiti kak Yuya....”, teriak gadis ini.
Hanz memalingkan wajahnya kearah Aya. Melihat Aya, Yuya shock. Yuya berteriak kepada Aya.
“apa yang kau lakukan..? cepat pergi dari sini !”. “ini tidak ada hubungannya denganmu”, lanjut Yuya.
“aku tidak akan pergi dari sini”, teriak Aya. Aya berlari mendekati Hanz dan menarik tangan Hanz agar bisa melepaskan Yuya. “lepaskan kak Yuya”, teriaknya.
“minggir sana”, teriak Hanz sambil melayangkan punggung tangannya kearah Aya. Hanz menampar Aya tepat di pipi. Genggaman Aya terlepas dari tangan Hanz. Aya terjatuh namun masih bisa menopang badannya dengan kedua tangannya. Aya memegangi pipinya. Dari matanya terlihat oleh Yuya air mata. Air mata jatuh kepipi Aya. Yuya tertunduk.
“kau...”
Hanz mengalihkan pandangannya kearah Yuya. Angin berhembus kencang seketika. Angin terasa begitu kencang. Hanz menyipitkan matanya karena debu-debu pasir bertebaran oleh angin yang kencang. Fred dan Tom menggunakan kedua lengan mereka untuk melindungi mata mereka.
“apa yang terjadi ?”, teriak Tom.
“aku juga tidak tahu”, balas Fred. Ralf yang tadi tersungkur mengangkat kepalanya untuk melihat apa yang terjadi. Dia menyipitkan matanya karena sulit melihat diantara gumpalan debu dan pasir yang beterbangan.
“beraninya kau memukul seorang wanita dihadapanku sampai membuatnya menangis”, kata Yuya masih menunduk. “tak akan kuampuni kau...”, teriak Yuya sambil menegakkan kepalanya. Angin bertambah kencang bersama teriakan Yuya. Yuya menggenggam lengan Hanz yang memegangi kerah bajunya. Digenggamnya lengan Hanz dengan kuat. Hanz berteriak kesakitan karena genggaman kuat Yuya. Genggaman Hanz dikerah Yuya terlepas. Yuya menarik lengan Hanz kesamping, menatap mata Hanz dengan pandangan kemarahan. Hanz melihat tatapan mata Yuya namun dia masih mengerang kesakitan. Yuya berdiri dan mencengkram leher Hanz dengan tangan kanan. Hanz tak berdaya dibuatnya. Tubuh Hanz terangkat keatas dan Yuya melempar Hanz, melepaskan cengkramannya dari leher Hanz. Hanz terlempar kira-kira 20 langkah dari tempat Yuya berdiri dan jatuh terjerembab diiringi erangannya. Hanz yang masih tersungkur menatap kedua temannya yang melongo melihat kejadian itu.
“hey...apa yang kalian lakukan ?”, teriak Hanz kepada kedua temannya. “serang dia”, perintah Hanz.
Fred dan Tom mengambil tongkat baseball mereka masing-masing dan berlari kearah Yuya sambil mengangkat tongkat baseball mereka. Posisi Yuya yang sebelumnya membelakangi mereka berbalik dan mengayunkan tangan kirinya kearah Fred dan Tom. Berbarengan dengan ayunan tangan Yuya, sekilas terlihat kibasan angin dengan kencang menuju mereka berdua. Kibasan angin itu melalui atas kepala Fred dan Tom. Saat itu pula tongkat baseball yang ada di tangan mereka terpenggal menjadi dua dan penggalannya jatuh tepat dihadapan mereka. Mereka berdua saling menatap satu sama lain karena heran. Yuya yang melakukan hal itu juga cuma melongo, tak percaya dengan apa yang dia lihat. Fred san Tom tersadar dari keheranan mereka. Mereka melempar potongan tongkat baseball kesamping dan bersiap untuk menerjang Yuya. Tom terlebih dahulu melancarkan serangan kepada Yuya. Tom melancarkan pukulan kearah wajah Yuya, namun Yuya dapat menghentikan serangan Tom dengan menangkap genggaman tangan Tom menggunakan tangan kirinya. Yuya mencengkram tangan Tom dengan kuat sehingga Tom menjerit kesakitan. Masih dalam posisi seperti itu, Tom melayangkan pukulan dengan tangannya yang satunya lagi kearah wajah Yuya. Namun belum sempat menyentuh wajah Yuya, Yuya terlebih dahulu menghantam wajah Tom dengan menggunakan punggung tangannya. Saking kerasnya hantaman Yuya sampai-sampai Tom terpental jauh dan jatuh tersungkur tak berdaya lagi. Fred bergerak kesamping Yuya dan melancarkan serangan untuk menghantam pipi Yuya. Namun Yuya yang melihat pergerakan Fred bergerak mundur selangkah, menghindari serangan Fred dan menghujamkan satu pukulan tepat dipipi kanan Fred. Fred terpental dan tak dapat bangun lagi.
“itu adalah balasan karena telah memukul temanku, Ralf !”, kata Yuya menatap Fred dengan tajam. Hanz yang tadi terbaring di tanah bangkit dan berlari menyerang Yuya.
“kurang ajar kau...”, teriak Hanz sambil mengarahkan pukulan kearah Yuya. Tapi dengan satu gerakan cepat, Yuya membungkukkan badannya sedikit dan memukul Hanz tepat di perut. Terkena pukulan ini, Hanz mengerang dan roboh seketika. Mulutnya mengeluarkan darah merah. Dia tidak bisa berdiri lagi. Yuya menatap Hanz dan berbicara lantang.
“itu untuk Aya”, kata Yuya kepada Hanz dengan sorot mata tajam tanda kemarahan. “dan itu belum cukup”, lanjutnya. Aya yang menyaksikan kejadian ini menangis melihat Yuya.
“hentikan...sudah cukup...”, kata Aya sambil menangis kepada Yuya. Yuya menoleh kearah Aya. Tatapan matanya kembali seperti semula, tak ada ekspresi kemarahan lagi. Yuya berjalan mendekati Aya dan membantunya berdiri.
“kau tidak apa-apa ?”
“tidak...terima kasih kak !”, sahut Aya.
Yuya mengalihkan pandangannya kearah Ralf yang tersungkur beberapa meter dari tempatnya berdiri dan berlari mendekatinya. Yuya membangunkan Ralf agar bisa duduk dan merangkulnya agar tidak terjatuh. Posisi mereka seperti yang ada di film Romeo dan Juliet. Aya yang melihat tingkah kakak kelasnya itu hanya bisa bengong.
“Ralf...sadarlah...”
“argh...uhuk..uhuk..kau Yuya”
“kau tidak apa-apa ?”
“aku tidak apa-apa, uhuk..”, balas Ralf dengan terbatuk-batuk. Dari jauh mereka berdua terlihat seperti dua sejoli yang sedang mengambil adegan penyelamatan oleh sang pemeran utama. Aya berjalan mendekat, melihat kearah mereka berdua sambil tertawa.
“hehe...kalian seperti pangeran dan putri, pangeran yang menolong tuan putrinya, hehehe...”, kata Aya sambil tertawa.
Yuya menatap kearah wajah Ralf. Ralf memasang wajah imut-imut. Sontak Yuya mendadak menjatuhkan Ralf.
“aduh...hey...kenapa kau lepaskan aku ?”, teriak Ralf kepada Yuya.
“ngapain juga aku amelakukan hal seperti itu kepadamu ? malu-maluin aja”, sahut Yuya.
Aya hanya tertawa melihat kejadian ini. Aya melirik kearah bibir Yuya yang berdarah. Diambilnya sapu tangan dan mengusapkannya dibibir Yuya untuk membersihkan darahnya. Yuya menjadi salah tingkah dibuatnya. Aya hanya tersenyum sedangkan Ralf cuma bisa meratapi nasib mujur temannya yang jauh berbeda dengan nasibnya yang memang benar-benar apes hari ini. Yuya menoleh kearah Hanz.
“kalian berdua”, kata Yuya kepada Fred dan Tom tanpa menoleh kepada mereka berdua. “bawa Hanz dan cepat pergi dari sini”.
“b..bba...baik..”, sahut Fred dan Tom. Mereka bangkit dan berlari menuju Hanz, merangkulnya dan berjalan meninggalkan Yuya, Aya, dan Ralf. Setelah mereka tak terlihat lagi, Aya melirik kepada Yuya.
“kak, ayo pulang”
Belum sempat Yuya berbicara, dia merasakan ada yang memerhatikannya dari belakang. Yuya menoleh kebelakang untuk memastikannya namun tak ada siapa-siapa disana selain Ralf yang berdiri beberapa langkah dibelakangnya. Aya heran melihatnya.
“ada apa kak ?”
“ah...tidak ada apa”, sahut Yuya. Ayo pulang”, ajak Yuya.
Mereka bertiga pun pergi meninggalkan tempat itu. Sampai didepan gerbang sekolah, Yuya dan Ralf melihat sebuah mobil Mercy dan seorang pria tua yang berdiri disamping mobil itu.
“rumah kak Yuya dimana ?”, tanya Aya. “ayo ikut Aya biar supir Aya yang antarkan kak Yuya pulang, kak Ralf juga”.
Mendengar ini hati Ralf berbunga-bunga. Akhirnya dia bisa merasakan juga naik mobil Mercy mewah bersama artis cakep dan beken. Namun Yuya cuma tersenyum.
“ah...tidak usah repot-repot, aku sudah biasa pulang jalan kaki, lain kali saja”, sahut Yuya sambil tersenyum. Mendengar ini, Ralf menyenggol tangan Yuya namun Yuya menatapnya dengan tatapan sinis yang langsung bisa dimengerti oleh Ralf.
“yah...kami sudah biasa pulang jalan kaki jadi Aya pulang saja duluan”, sambung Ralf sekalipun dengan terpaksa.
“oh...begitu ya ? ya sudah Aya pulang dulu ya kak ?”, balas Aya seraya masuk kedalam mobil bagian belakang yang pintunya telah dibukakan oleh supirnya. Kaca mobil dimana Aya duduk terbuka.
“sampai ketemu besok...”, kata Aya dengan senyum menawannya. Ralf langsung terpesona dibuatnya.
“sampai ketemu besok”, sahut Yuya dan Ralf berbarengan.
Mobil bergerak meninggalkan mereka berdua. Ralf yang tadi dongkol berbicara.
“kenapa kau menolak ajakannya untuk ikut mobilnya buat diantar pulang, padahal jarang-jarang lo kita bisa naik mobil seperti itu”, kata Ralf dongkol.
“aku malu padanya”, sahut Yuya. “masa aku harus selalu menerima tawarannya ? dimana aku menaruh mukaku nanti ?”, lanjut Yuya.
“yah...kau memang selalu seperti itu”, sahut Ralf sambil menyela napasnya. “ayo kita pulang”, ajak Ralf.
Mereka pun berjalan meninggalkan sekolah. Yuya menoleh kebelakang, kearah sekolah. Ada sesuatu yang mengusik pikirannya.

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar